Mengupas Hastag #TangkapMulyono yang Tengah Trending di Platform X

Screenshot



Belakangan ini, media sosial platform X diramaikan dengan tagar #TangkapMulyono yang mendadak menjadi trending. Bagi yang belum tahu, "Mulyono" bukanlah nama selebritas baru atau tokoh fiktif dalam sinetron ya guys. Ini adalah nama kecil dari Presiden Joko Widodo (Wikipedia-red), yang kini menjadi pusat perhatian publik di tengah panasnya isu politik nasional saat ini.


Mengapa Mulyono?


Foto Jokowi semasa kecil. Sumber: Detik.com



Nama kecil Jokowi, "Mulyono," kembali diangkat oleh netizen sebagai simbol protes terhadap berbagai kebijakan yang dianggap kontroversial. Salah satu pemicunya adalah rencana revisi UU Pilkada, yang diduga akan membuka jalan bagi putra bungsu Jokowi, yaitu Kaesang Pangarep, untuk maju dalam Pilkada Jawa Tengah, meskipun usianya belum genap 30 tahun. Bagi sebagian orang, ini dianggap sebagai bentuk nepotisme yang nyata, sebuah isu lama yang kembali memanas di akhir masa jabatan Jokowi.


Bukan Sekadar Nama


Sumber gambar: Pinterest.com



Namun, tagar ini bukan sekadar soal nama. Ada latar belakang yang lebih dalam, yaitu kekecewaan publik terhadap tindakan represif aparat dalam menangani aksi demonstrasi mahasiswa. Mahasiswa dan berbagai elemen masyarakat yang menyuarakan penolakan terhadap berbagai kebijakan pemerintah merasa dihadang dengan cara yang tidak demokratis. Alhasil, mereka meluapkan kekecewaan tersebut melalui tagar #TangkapMulyono, yang di dalamnya terkandung tuntutan agar Jokowi diadili setelah ia turun dari jabatannya.


Referensi ke Masa Lalu


Sumber gambar: Fahum.umsu.ac.id



Menariknya, tagar ini juga mengaitkan kritiknya dengan Tap MPR No XI/MPR/1998, yang berisi ketentuan tentang pemberantasan korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN). Netizen berpendapat bahwa jika mantan Presiden Soeharto bisa diadili karena dugaan KKN, maka hal yang sama harusnya berlaku untuk siapapun, termasuk Jokowi jika memang terbukti bersalah.


Bagaimana kedepannya Tagar Ini?


Apakah tagar #TangkapMulyono akan tetap relevan atau sekadar menjadi tren sesaat di media sosial? Hanya waktu yang bisa menjawab. Yang jelas, tagar ini telah menjadi simbol dari suara-suara yang merasa diabaikan dan frustasi terhadap situasi politik saat ini. Ini lebih dari sekadar viral; ini adalah refleksi dari ketidakpuasan yang mengakar di tengah masyarakat.

Bagaimanapun, tagar ini menunjukkan bahwa di era digital, kritik bisa disampaikan dengan cara yang kreatif dan mendalam, bahkan dengan menggunakan nama kecil seseorang. Mulyono, yang mungkin pernah dilupakan, kini kembali hadir di tengah percakapan nasional—bukan sebagai anak kecil yang sering sakit-sakitan, tapi sebagai simbol kritik terhadap kekuasaan yang dianggap terlalu dominan.


Catatan:


Artikel ini mencerminkan pandangan netizen dan suasana sosial politik yang terjadi saat ini. Bagi yang penasaran dengan dinamika lebih dalam dari tagar ini, mungkin perlu memperhatikan isu-isu politik terkini yang berkembang di negeri kita.
Ferry Alamsyah

Founder | Membangun usaha berbasis digital | Kontak: halo@ferryupdate.com

Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama