![]() |
| Ilustrasi, sumber gambar: Pinterest |
Pernah lihat lowongan kerja yang syaratnya kayak gini?
"Dicari Admin. Wajib punya laptop sendiri."
Ada juga...
"Dicari Content Creator. Syarat wajib punya kamera, laptop, dan HP dengan spesifikasi tinggi."
Ada juga yang lebih koplak.
"Dicari Digital Marketing. Wajib punya laptop, kamera, kendaraan pribadi, paket internet sendiri, siap lembur, target tinggi."
Terus perusahaan nyiapin apaan??? Lu buka usaha modal otak kagak, modal alat juga kagak.
Coba pikir lagi deh, kalo syarat lowongan kerja (loker) kayak gitu, posisi lu bukan jadi karyawan tapi jadi investor.
Kerja atau Bawa Modal?
Coba kita pake logika sederhana.
Seorang tukang bangunan datang bekerja. Palu, semen, dan alat-alat berat biasanya disediakan siapa? Perusahaan!
Seorang koki masuk restoran. Kompor, oven, panci, dan peralatan dapur disediakan siapa? Restoran!
Sopir bus tidak disuruh membawa bus sendiri dari rumah, kan?
Lalu kenapa di beberapa lowongan kerja justru karyawannya yang harus menyediakan alat kerja utama? Kan geblek!
Alat Kerja Itu Tanggung Jawab Siapa?
Emang sih, ada beberapa profesi yang wajar jika menggunakan peralatan pribadi. Misalnya freelancer, fotografer independen, atau desainer yang memang bekerja sebagai mitra.
Tapi kalau statusnya sebagai karyawan tetap dengan jam kerja penuh, target perusahaan, dan harus hadir setiap hari, pertanyaannya sederhana:
Kenapa alat kerjanya dibebankan ke karyawan???
Laptop bukan barang murah. Kamera bukan barang murah. HP yang mumpuni juga bukan barang murah.
Belum lagi biaya servis, listrik, paket internet, hingga risiko kalau perangkat rusak karena dipakai untuk kepentingan kantor.
Jangan Sampai Normalisasi
Yang lebih bahaya adalah ketika kondisi seperti ini dianggap biasa. Banyak pencari kerja akhirnya berkata, "Ya sudah, mungkin sekarang syaratnya begitu." Ya padahal aturan mainnya nggak gitulah.
Perusahaan yang menghargai karyawannya umumnya memahami bahwa alat kerja merupakan bagian dari investasi bisnis. Sama seperti mereka menyewa kantor, membayar listrik, atau membeli meja dan kursi.
Kalau semua biaya operasional dialihkan ke karyawan, siapa sebenarnya yang sedang menanggung beban bisnis?
Bukan Berarti Semua Loker Salah
Perlu dipahami, nggak semua lowongan kerja yang meminta laptop pribadi itu buruk. Ada juga perusahaan rintisan (startup), usaha masih kecil, atau pekerjaan hybrid yang sejak awal menjelaskan kondisinya secara terbuka.
Kalo sejak awal ada kesepakatan yang adil, gaji sesuai, bahkan ada tunjangan untuk penggunaan perangkat pribadi, itu cerita yang berbeda. Masih bisa dimakluminlah..
Yang perlu diwaspadai adalah ketika perusahaan menuntut karyawan membawa semua alat kerja sendiri, tetapi gaji minim, target tinggi, dan tidak ada kompensasi apa pun. Nah perusahaan yang kayak gini nih perusahaan asu!
Jadilah Pencari Kerja yang Cerdas
Saat melihat lowongan kerja, jangan hanya fokus pada nominal gaji.
Perhatikan juga:
- Apakah alat kerja disediain?
- Apakah ada tunjangan jika pake perangkat pribadi?
- Apakah beban kerja sebanding dengan fasilitas yang diberikan?
- Apakah perusahaan terlihat menghargai karyawannya?
Ingat, nyari kerja jangan mau dibego-begoin, bukan berarti harus rela menerima semua syarat tanpa berpikir untung-rugi.
Kesimpulan
Nyari kerja emang nggak gampang. Apalagi ketika kebutuhan hidup terus berjalan. Tapi jangan sampe keadaan bikin kita menerima hal-hal yang sebenarnya nggak masuk akal.
Perusahaan yang baik bukan hanya menuntut hasil, tetapi juga menyediakan fasilitas supaya karyawannya bisa bekerja dengan maksimal.
Jadi, lain kali kalau menemuin lowongan kerja (loker) yang syaratnya hampir semua alat kerja harus dari kantong sendiri, ya baiknya skip aja.
Baca baik-baik. Hitung untung ruginya. Karena menjadi karyawan bukan berarti harus ikut membiayai operasional perusahaan. Kerja itu menghasilkan uang, bukan malah membuat kita keluar modal.
