Bukan Jokowi, Anies-lah Raja Jawa Sebenarnya

Jokowi dan Anies


Dalam beberapa tahun terakhir, wacana politik di Indonesia sering kali mengangkat istilah "Raja Jawa" untuk merujuk pada Presiden Joko Widodo (Jokowi). Sebutan ini, yang awalnya mungkin dimaksudkan sebagai pujian, kini berubah menjadi simbol kekuasaan yang diraih bukan melalui cinta dan pengabdian rakyat, melainkan melalui kontrol dan pengaruh para bawahan penjilat. Namun, benarkah Jokowi layak disebut "Raja Jawa," atau sebenarnya gelar itu lebih pantas disematkan kepada tokoh lain?


Kekuasaan yang Dipertanyakan


Animasi penjilat


Jokowi, yang telah memimpin Indonesia sejak 2014, sering kali diibaratkan sebagai "Raja Jawa" oleh pendukungnya. Namun, sebutan ini seringkali terkesan sebagai ungkapan dari para penjilat politik yang ingin menjaga kedudukan mereka. Selama masa pemerintahannya, demokrasi di Indonesia mengalami kemunduran. Kebebasan berpendapat semakin terancam, dan keputusan-keputusan kontroversial yang dianggap lebih menguntungkan kelompok tertentu semakin sering terjadi. Kondisi ekonomi yang tidak membaik, bahkan memburuk di beberapa sektor, membuat banyak rakyat merasa tidak puas dengan kepemimpinan Jokowi.

Rakyat sengsara


Para pengamat politik berpendapat bahwa julukan "Raja Jawa" ini tidak lebih dari sekadar lip service dari para pejabat yang ingin memperkuat posisi mereka di lingkaran kekuasaan. Sementara itu, di lapangan, rakyat semakin merasakan dampak dari kebijakan yang tidak berpihak pada mereka, dan kepercayaan terhadap demokrasi perlahan memudar.


Anies, Raja di Hati Rakyat


Anies Baswedan dan masyarakat


Di sisi lain, ada Anies Baswedan, mantan Gubernur DKI Jakarta, yang meskipun tidak lagi memegang jabatan publik, tetap mendapatkan tempat istimewa di hati banyak masyarakat. Anies telah membuktikan dirinya sebagai pemimpin yang dicintai oleh berbagai lapisan masyarakat, mulai dari rakyat biasa hingga partai politik dan organisasi kemasyarakatan (ormas). Ke mana pun Anies berkunjung, ia selalu disambut dengan antusiasme luar biasa oleh masyarakat yang hadir. Kehadirannya sering kali menjadi momen yang dinantikan dan dirayakan, menunjukkan betapa kuatnya dukungan publik terhadapnya.

Banyak yang melihat Anies sebagai figur yang memiliki visi dan misi yang jelas untuk membangun Indonesia yang lebih baik. Gaya kepemimpinannya yang lebih inklusif dan dialogis, berbeda dengan gaya pemerintahan yang cenderung otoriter, menjadikannya sebagai sosok pemimpin yang ideal di mata banyak orang. Kecintaan masyarakat terhadap Anies bukan hanya karena jabatannya, tetapi karena integritas, visi, dan keberaniannya dalam mengambil sikap yang berani, terutama dalam situasi yang penuh tantangan.


Kecemburuan Jokowi?


Jokowi



Tidak dapat dipungkiri bahwa popularitas Anies yang semakin meningkat di berbagai kalangan masyarakat mungkin menjadi sumber kekhawatiran bagi Jokowi. Meskipun Jokowi masih berada di puncak kekuasaan, kehadiran seorang tokoh seperti Anies yang dicintai oleh rakyat menimbulkan perbandingan yang tidak bisa dihindari. Anies, yang tidak lagi memegang jabatan resmi, justru sering kali terlihat lebih dekat dengan rakyat, sesuatu yang semakin jarang terlihat dari seorang pemimpin seperti Jokowi.

Kesimpulannya, sebutan "Raja Jawa" mungkin lebih layak disematkan kepada Anies Baswedan, yang meskipun tanpa kekuasaan formal, tetap mendapatkan tempat istimewa di hati rakyat. Ia menunjukkan bahwa kekuasaan sejati tidak selalu datang dari jabatan atau kekuasaan politik, tetapi dari cinta, penghormatan, dan dukungan tulus dari rakyat yang ia pimpin. Sementara itu, Jokowi harus berhati-hati, karena kekuasaan yang hanya didukung oleh loyalitas para bawahan, tanpa cinta dari rakyat, akan rapuh dan mudah runtuh.
Ferry Alamsyah

Founder | Membangun usaha berbasis digital | Kontak: halo@ferryupdate.com

Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama