![]() |
| Tangkapan layar |
Sebuah panggung akademisi pada sebuah acara di salah satu stasiun televisi ternama. Diskusi berjalan seru, masing-masing pihak menyampaikan argumen dengan penuh semangat. Lalu tiba-tiba, salah satu peserta meledak. Kata-kata kasar keluar dari mulutnya. Apa yang tadinya menjadi perdebatan intelektual, berubah menjadi caci-maki. Nah, apakah ini cara yang benar dalam berdebat? Jelas tidak! Seperti yang terlihat pada cuplikan video YouTube channel resmi di bawah ini:
Di dunia akademisi, debat bukan hanya soal siapa yang paling keras berbicara atau siapa yang paling banyak berteriak. Ini adalah arena tempat ide-ide diuji, argumen diadu, dan kebenaran dicari. Tetapi ketika emosi mengambil alih dan kata-kata kasar dilemparkan, semua itu hancur berantakan. Diskusi berubah menjadi pertunjukan tidak sopan yang menghilangkan esensi dari apa yang seharusnya menjadi dialog intelektual.
Sontak saja, hal ini menjadi perbincangan hangat bagi para netizen di dunia maya, terutama di platform X (dahulu twitter) hingga menjadi tranding topik. Ramai-ramai para netizen memprotes sikap lawan debat Rocky Gerung (ahli filsuf) yang memang sering kali muncul di layar kaca sebagai tamu undangan sebagai pengamat politik.
"Kau bodoh, BANGSAT kau...,"
— Jhon Sitorus (@JhonSitorus_18) September 3, 2024
Sebagai respresentasi Istana atau Jokowi, ini MEMALUKAN sih
Masa debat didepan jutaan rakyat Indonesia begini?
Rocky Gerung unbeaten pic.twitter.com/8MxsS1BNnB
Mengapa Emosi Tidak Boleh Memimpin?
Mari kita jujur. Kita semua manusia, dan wajar jika kadang emosi muncul dalam diskusi, terutama ketika topik yang dibahas sangat dekat dengan hati kita. Tetapi, membiarkan emosi mengendalikan diri dalam debat akademis bukan hanya tidak profesional, tapi juga tidak produktif. Sebagai peserta diskusi, kita diharapkan bisa mengemukakan pendapat dengan cara yang santun dan berdasarkan logika, bukan perasaan semata.
Kata kasar, ejekan, atau serangan pribadi hanya menunjukkan kelemahan argumen dan kurangnya kontrol diri. Bukannya memperkuat posisi Anda, tindakan ini justru menunjukkan bahwa orang tersebut tidak memiliki kemampuan untuk menghadapi perbedaan pendapat dengan bijak.
Dialog yang Sehat
Seharusnya kita semua bisa belajar untuk tetap tenang, mendengarkan, dan merespons dengan cerdas. Akademisi adalah tempat di mana kita bisa tidak setuju dengan sopan dan menghargai perbedaan. Debat adalah tentang menemukan titik temu atau setidaknya memperkaya perspektif, bukan tentang memenangkan adu kekuatan verbal.
Kesantunan adalah Kunci
Pada akhirnya, menjaga kesantunan dalam berdebat adalah cerminan dari kedewasaan intelektual dan emosional kita. Jadi, jika benar-benar ingin dianggap cerdas dalam diskusi akademis, tinggalkan kata kasar di luar pintu. Bawa masuk hanya argumen yang solid dan sikap yang penuh hormat. Karena di dunia akademisi, itulah yang benar-benar dihargai.
Update
Kabar terbaru saya update Rabu/4/september/2024, jam 19:51, ternyata saat jeda iklan keributan masih saja berlangsung, bahkan semakin caos, di karenakan kemungkinan pendukung Rocky Gerung (terlihat seperti sosok Choci Hakim) tak terima dengan adanya seorang yang bisa dikatakan baru muncul di acara televisi namun sudah membuat gaduh dengan cara memaki lawan debatnya tersebut. seperti yang terlihat di bawah ini:
SAAT JEDA IKLAN
— Monica (@NenkMonica) September 4, 2024
Ngamuknya Ketua Relawan Merah Putih thp Rocky Gerung pic.twitter.com/z2IJfPHFHY
